#Edukasi Inklusif di SLB 2 Denpasar, Bank Indonesia Perkuat Pemahaman Karakteristik Uang Rupiah bagi Seluruh Peserta Didik
Denpasar – Setiap warga negara memiliki hak yang sama untuk memahami, menggunakan, dan menjaga Rupiah sebagai simbol kedaulatan bangsa. Semangat inklusivitas inilah yang terus dihadirkan Bank Indonesia melalui berbagai program edukasi, agar pesan Cinta, Bangga, dan Paham (CBP) Rupiah dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat, termasuk peserta didik berkebutuhan khusus.
Melalui program RUPADEWA (Rupiah Pesona Dewata), Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali melalui Unit Implementasi Pengelolaan Uang Rupiah (UIPUR) menyelenggarakan edukasi karakteristik Uang Rupiah kepada peserta didik baru SLB 2 Denpasar pada Jumat, 17 Juli 2026. Kegiatan yang menjadi bagian dari rangkaian Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) ini dirancang menggunakan metode pembelajaran yang inklusif, komunikatif, dan interaktif sehingga materi dapat diterima dengan baik sesuai kebutuhan belajar setiap peserta.
Suasana kegiatan berlangsung hangat, penuh semangat, dan sarat interaksi. Para peserta didik didampingi guru mengikuti setiap sesi dengan antusias melalui praktik langsung, demonstrasi, serta berbagai aktivitas yang dirancang agar mudah dipahami. Pendekatan yang ramah dan adaptif memungkinkan setiap peserta memperoleh pengalaman belajar yang menyenangkan sekaligus bermakna.
Dalam kegiatan tersebut, peserta diperkenalkan pada karakteristik Uang Rupiah, termasuk cara mengenali keaslian uang melalui metode 3D (Dilihat, Diraba, Diterawang). Dengan pendekatan yang disesuaikan dengan kemampuan masing-masing peserta didik, mereka diajak mengenali berbagai unsur pengaman pada uang Rupiah serta memahami pentingnya memastikan keaslian uang dalam kehidupan sehari-hari. Edukasi ini menjadi bekal penting untuk meningkatkan kemandirian peserta dalam menggunakan Rupiah secara percaya diri.
Selain mengenali karakteristik Rupiah, peserta juga diajak membangun kebiasaan memperlakukan uang dengan baik melalui penerapan prinsip 5 Jangan—jangan dilipat, jangan dicoret, jangan diremas, jangan dibasahi, dan jangan distapler. Melalui praktik langsung dan contoh-contoh sederhana, siswa memahami bahwa menjaga kualitas Rupiah merupakan bentuk kepedulian terhadap simbol negara sekaligus upaya menjaga uang tetap layak edar.
Lebih dari sekadar memberikan pengetahuan, kegiatan ini juga menjadi langkah nyata dalam membangun lingkungan sekolah yang inklusif dan ramah terhadap literasi keuangan. Setiap peserta didik diberikan kesempatan yang sama untuk belajar mengenali, menggunakan, dan menghargai Rupiah sesuai dengan kemampuan masing-masing. Pendekatan ini diharapkan mampu menumbuhkan rasa percaya diri sekaligus memperkuat semangat Cinta, Bangga, dan Paham Rupiah di lingkungan sekolah.
Antusiasme yang ditunjukkan oleh peserta didik, guru, maupun pihak sekolah menjadi bukti bahwa edukasi yang disampaikan secara inklusif mampu menciptakan pengalaman belajar yang positif. Interaksi yang hangat selama kegiatan menunjukkan bahwa literasi Rupiah dapat dipahami oleh semua kalangan ketika disampaikan melalui metode yang tepat, sederhana, dan menyenangkan.
Melalui kegiatan ini, Bank Indonesia menegaskan komitmennya untuk menghadirkan edukasi yang dapat diakses oleh seluruh masyarakat tanpa terkecuali. Harapannya, peserta didik SLB 2 Denpasar tidak hanya mampu mengenali karakteristik Uang Rupiah, tetapi juga tumbuh menjadi pribadi yang bangga menggunakan Rupiah, percaya diri dalam bertransaksi, serta turut menyebarluaskan semangat Cinta, Bangga, dan Paham Rupiah di lingkungan keluarga dan masyarakat.
Literasi Rupiah adalah hak setiap anak bangsa. Ketika edukasi hadir secara inklusif, setiap langkah kecil menuju pemahaman akan menjadi pondasi lahirnya masyarakat yang semakin menghargai Rupiah sebagai simbol kedaulatan Indonesia.